Selasa, 07 Agustus 2018

Sejarah Desa Arok


        Dikisahkan pada zaman dahulu di suatu tempat di pulau Madura, tepatnya di daerah Bangkalan ada salah satu hutan bambu atau perreng dalam bahasa Madura, yang sangat luas. Bahkan tempat ini dikenal sebagai tempat menyepi/ menyendiri. Oleh sebagian orang untuk bertapa agar mendapatkan ilmu kanuragan di sana.
      Memang benar adanya. Ada seseorang yang datang dari negeri timur tengah yang berhasil mendapatkan ilmu kanuragan di sana. Dia menjadi kebal bacok dan tak ada satupun orang yang dapat mengalahkannya hingga orang tersebut menjadi orang terkenal di seluruh Bangkalan hingga daerah WEKASSAN atau sekarang lebih dikenal sebagai Pamekasan. Ilmu kanuragan tersebut tidak Beliau dapatkan dengan mudah. Beliau bertapa hingga berbulan-bulan lamanya. Beliau hanya makan satu potong pisang emas selama pertapaannya. Hingga suatu hari, Beliau sempat terlelap dan bermimpi bahwa di tengah-tengah hutan bambu tersebut terdapat sumur yang notabennya sumur tersebut tidak dibuat oleh manusia. Sumur itu terbentuk dari jatuhnya batu bintang yang mengarah tepat di tengah hutan bambu tersebut, hingga membentuk sebuah kubangan kecil yang dalam, hingga keluar sumber mata air di sana. Dalam mimpi tersebut, dikisahkan bahwa jika air sumur itu berwarna merah segera minumlah air sumur tersebut dan seketika itu kulit dan badan orang yang meminum air tersebut akan kebal.
       Saat itu, orang tersebut terbangun dari tidurnya dengan rasa penasaran. Orang tersebut mencari keberadaan sumur itu, hingga akhirnya sumur itupun ditemukan. Beliau pun langsung meminum airnya yang pada saat itu airnya sedang berwarna merah. Sampai saat ini sumur tersebut masih ada dan masih dikeramatkan, tapi sayangnya sumur tersebut tidak terawat lagi.
        Hingga pada suatu masa, ada seorang yang sakti mandraguna. Orang tersebut berciri gemuk dan mempunyai perut yang sangat besar. Dia dikenal dalam kisah pewayangan yang disebut sebagai tokoh Semar. Beliau juga ingin menyendiri/bertapa di hutan bambu itu. Hingga akhirnya Sang Semar tersebut bermimpi untuk menjajal ilmunya dengan mengumpulkan batu-batu menjadi gundukan/tumpukan batu hingga terbentuk seperti gunung. Setelah terbangun dari tidurnya, Sang Semar pun mencoba apa yang dimimpikannya. Dia mengumpulan batu-batu hingga terbentuk menjadi tumpukan besar yang menyerupai gunung. Dan salah satu syarat untuk membuat gunung atau tumpukan batu-batu yang besar itu adalah tidak adanya suara pukulan, dikarenakan suara pukulan dapat meruntuhkan tumpukan batu tersebut.
       Pada saat yang bersamaan, di waktu matahari sudah mulai terbenam di ufuk barat, ada seseorang yang menebang bambu di hutan tersebut hingga menimbulkan bunyi yang mengganggu proses Sang Semar mewujudkan keinginannya, yaitu membuat sebuah gunung di tengah hutan bambu tersebut, menjadi gagal. Seketika itu pula gunung yang dibuat oleh Sang Semar runtuh dan batu-batu yang sudah ditumpuk menjadi berserakan. Akhirnya Sang Semar pun murka. Dia berteriak marah dan mengutuk siapapun orang yang telah menggagalkan rencananya, “Siapapun orang yang telah mengganggu dan menggagalkan semua yang telah aku idamkan selama ini. Wahai Kau sang pengganggu, setinggi apapun kedudukanmu, sebesar apapun ilmumu, sepintar apapun akalmu, aku akan mengutuk kamu akan mengalami akhir hidupmu dengan bambu itu !!”. 
      Mendengar hal tersebut, orang yang sedang menebang bambu pun menjadi sombong, karena orang tersebut dikenal mempunyai ilmu kebal hasil dari Sumur di hutan itu. Dia pun berkata, “Jangankan sebuah bambu, golok pun tidak mampu untuk menebasku,”. Hal sombong itulah yang menjadi akhir dari kehidupan orang yang terkenal kebal itu. Di saat dia memotong bambu, tangan orang tersebut terkena serpihan potongan bambu yang sedang dipotongnya. Hal tersebut dalam bahasa Madura disebut tesarok. Sejak itu, Beliau pun mengalami luka yang tak kunjung sembuh. Sampai seluruh tabib di tanah Madura pun tidak sanggup untuk mengobatinya dan akhirnya orang sombong tersebut meninggal dunia. Meninggalnya orang sakti itu menjadi pertanyaan bagi sebagian besar orang Madura, khususnya Bangkalan, dikarenakan kenapa orang sesakti itu bisa meninggal dunia hanya karena tertusuk serpihan bambu atau tesarok dan sejak saat itu orang-orang menyebut hutan bambu itu dengan sebutan Perreng Nyarok atau dalam Bahasa Indonesia berarti bambu terselip. Kata Nyarok itu menjadi asal usul nama dari Desa Arok. Yang mayoritas tumbuhan di Desa itu memanglah bambu. Hingga sekarang hutan bambu tersebut dikenal dengan nama Desa Arok dengan begitu banyak tumbuhan bambunya.

0 comments:

Posting Komentar

http://www.resepkuekeringku.com/2014/11/resep-donat-empuk-ala-dunkin-donut.html http://www.resepkuekeringku.com/2015/03/resep-kue-cubit-coklat-enak-dan-sederhana.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/10/resep-donat-kentang-empuk-lembut-dan-enak.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/07/resep-es-krim-goreng-coklat-kriuk-mudah-dan-sederhana-dengan-saus-strawberry.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/06/resep-kue-es-krim-goreng-enak-dan-mudah.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/09/resep-bolu-karamel-panggang-sarang-semut-lembut.html